Workshop Pendidikan Karakter dan Kemandirian Bagi Guru TPQ

Akhir-akhir ini pemerintah sedang serius menggarap pendidikan, terutama yang berkaitan dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter dianggap penting di tengah majunya zaman dan menurunnya nilai-nilai moral manusia.

Tampaknya pemerintah tidak mau kehilangan momen krusial yakni menyiapkan generasi emas di tahun mendatang. Indonesia diharapkan menjadi leader dalam segala lini kehidupan , tak terkecuali urusan moral dan akhlaq juga harus mampu menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain.

Penggerak Pembina Generus (PPG) Surabaya Utara Bidang Bimbingan Konseling yang berada di bawah naungan PC LDII Kenjeran berusaha membantu pemerintah meraih harapan tersebut. Melalui kegiatan workshop pendidikan karakter dan kemandirian, PPG dan LDII memberikan materi yang berkaitan dengan penguatan karakter positif serta kemandirian kepada guru-guru TPQ yang berada di wilayah Kenjeran dan sekitarnya.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Minggu malam (3/12) dan bertempat di Masjid Al Faried. Sebanyak 87 peserta dari masing-masing TPQ hadir untuk mendapatkan pengarahan langsung dari pemateri, yakni Titik Setyawati,S.Pd, Kepala RA Taman Insan Mulia tentang pentingnya pendidikan karakter bagi santri dan kemandirian.

“Kami sengaja mengadakan kegiatan ini sebab kami melihat pendidikan karakter belum menyentuh santri TPQ secara maksimal, sebab umumnya mereka hanya belajar membaca dan menulis Al Qur’an ,dan Ustadz dan Ustadzah nya belum intens untuk menyampaikan itu” kata Agus, Ketua PC LDII Kenjeran.

Dalam workshop tersebut guru-guru TPQ mendapatkan wawasan tentang metode-metode pembelajaran yang mampu mengintegrasikan antara pengetahuan dan pendidikan karakter dan kemandirian. Sehingga dalam pembelajaran di setiap TPQ, mereka mampu mentransfer kepada santri – santri nya dan pada akhirnya menjadi kebiasaan yang baik.

Dalam paparannya, Titik menjelaskan bahwa pengaruh negatif terhadap anak-anak zaman sekarang lebih besar daripada anak-anak jaman dulu. Berbagai informasi bisa diakses oleh mereka, baik yang positif maupun yang negatif. “Peran orang tua dibantu guru dan BK di setiap TPQ supaya ditingkatkan, perbanyak informasi, perbanyak komunikasi dan sinergi”, ujar Titik.

Dudung,salah satu peserta workshop yang juga seorang guru di salah satu sekolah negeri di Surabaya mengaku sangat senang dan bersyukur dengan adanya kegiatan tersebut. Banyak informasi – informasi yang sebelumnya belum diketahui akhirnya sekarang sudah tahu. “Saya berharap, kegiatan serupa bisa diadakan kembali dengan menggandeng orang tua dan guru.” tambahnya.(rc/86)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *